Festival Kemerdekaan di Negeri Kanguru

LBI - Australia, Ratusan warga lokal yang tinggal di sekitar Brisbane, Queensland mendatangi kawasan Village Green Caboolture, kemarin petang. Kedatangan mereka untuk menyaksikan penampilan warga Indonesia yang saat itu menggelar acara Indonesian Festival 2018. Festival tersebut diadakan sebagai upaya mengenalkan budaya Indonesia ke masyarakat Australia yang selama ini dikenal dengan multietnis.

Warga lokal tersebut begitu antusias menikmati suguhan tarian dan musik tradisional berbagai wilayah di Indonesia seperti tari Indang Badindin dari Sumatera Barat yang dibawakan Minang Maimbau Brisbane (MMB) dan tari Pendet dari Bali yang dibawakan warga Gold Coast.

Bahkan sebagian dari penonton dengan semangat ikut menari ‘Ondel-Ondel’ dari Betawi memenuhi ajakan panitia. Di tengah acara, mereka juga bisa menyantap masakan Indonesia dengan harga yang relatif terjangkau.

Menurut Siti Aisyah yang menjadi salah satu penyelenggara acara tersebut, acara 17-an tahun ini sengaja dilakukan di ruang terbuka agar bisa dilihat publik luas. Sehingga masyarakat setempat yang tidak diundang pun bisa ikut terlibat menikmati acara maupun membeli makanan yang tersedia.

Apalagi festival yang berlangsung dari siang hingga malam ini juga mendapat dukungan dana dari pemerintah lokal. “Biasanya kita lakukan di dalam gedung dan agak tertutup. Kali ini kita ingin lebih terbuka supaya masyarakat Australia tahu,” ujarnya.

Ketua MMB Dewi Andriani menambahkan, selain mengenalkan budaya Indonesia, acara ini dilakukan untuk menyatukan warga Indonesia biasanya tinggal terpencar satu sama lain. Dengan acara ini, orang Indonesia yang mungkin sudah menikah dengan penduduk setempat bisa tahu kalau ada komunitas Indonesia di Brisbane dan sekitarnya. “Kita ikut merasakan menjadi bagian dari Indonesia. Kita jauh di rantau, rindu dengan suasana menyambut hari kemerdekaan seperti di kampung halaman,” ungkapnya.

Gelar Wayang Kulit
Terkait dengan HUT RI ke-73, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra menggelar pentas Wayang Kulit dalam Bahasa Inggris dengan lakon 'Babat Wana Martha' selama dua hari berturut-turut di National Gallery of Australia (NGA) pada tanggal 29-30 Juli 2018 dan Workshop Wayang Kulit keesokan harinya. Pertunjukan Wayang Kulit secara maraton ini mendapat sambutan yang sangat meriah dari publik Australia.

Terbukti, tiket pertunjukan yang disediakan oleh NGA, sudah habis dipesan masyarakat Canberra dan sekitarnya sejak dua minggu sebelum acara. “Saya sangat bangga melihat tingginya antusiasme masyarakat Australia menyaksikan acara ini,” kata Dubes RI untuk Australia Kristiarto S Legowo dalam keterangan persnya.

Kristiarto menjelaskan, publik Australia yang menyaksikan pertunjukkan tersebut begitu terkesan dengan gelaran yang diadakan KBRI. “Mudah-mudahan wayang kulit yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, bisa terus kita jaga kelestariannya dan semakin diakui dunia,” tambahnya.

Salah seorang penonton, Lisa, mengaku senang bisa melihat langsung pertunjukan wayang kulit dan Gamelan Jawa untuk pertama kalinya. Begitu pun dengan Caroll, salah seorang pencinta seni yang tengah bekerja di Canberra berjanji akan datang kembali apabila pertunjukan Wayang Kulit di kemudian hari.

“Pertunjukkan begitu menyenangkan karena bisa mendengarkan alat musik gamelan yang memiliki banyak nada. Kami benar-benar senang melihat pertunjukkan ini,” ujar Lisa. 
Australia 5 Agustus 2018
Sumber : 
Siti Aisyah (Indocomm Caboolture & Surrounds)
Kembali ke Kearifan Lokal
Sejatinya, Kearifan Lokal justru mengakselerasi
Modernisasi ke arah yang lebih sehat....
Bogor Sehat (Sejahtera Aman Tentram)